Sabtu, 12 November 2016



BERLARI MENGEJAR MIMPI

Karya :Tasya Asyarah
    Matahari mulai terbit dari Barat, ayam pun mulai berlomba berkokok, diselingi dengan kicauan burung yang terdengar merdu. Membuat ku harus bangkit dari tempat tidur sederhana, beralaskan seprai kusut dan bantal kapuk yang terbilang tak layak pakai karena dimakan usia. Hari yang cerah mendukung aktivitas>>,terkadang aku tenggelam dalam sikap bermalas – malasan . Namun kalau aku terus – menerus seperti itu siapa yang harus mencarikan biaya sekolah dan makan keluarga kecilku setiap harinya ? .Ayahku meningggal 2 tahun yang lalu, ibuku pergi keluar kota dan tak pernah kembali ,terlahir sebagai anak pertama dari 2 bersaudara juga sekaligus memiliki peran sebagai tulang punggung keluarga .Sejak kecil kami diasuh oleh nenek (ibu dari ayah) dan tinggal dalam sebuah pondok kecil . Akhir-akhir ini nenek tidak bisa lagi berkebun dan menjual sayuran ia hanya terbaring sakit di kamar. Kondisi seperti ini membuat aku harus memikul beban hidup yang sangat berat  tak sebanding dengan usiaku yang masih mencapai 12 tahun .Itulah skema keluarga sederhanaku.
         

           Beranjak dari kamar menuju dapur yang berukuran sangat kecil hanya dilengkapi dengan rak piring dan juga kompor sederhana terbuat dari tanah liat bahan bakarnya ialah kayu kering ,kompor ini dikenal dengan nama “DAPO”dalam istilah bugis-bone.Kulihatnya secangkok beras diatas meja yang hanya cukup untuk di buat bubur saja hal ini membuatku meneteskan air mata, terpikir dalam benakku :
”Apakah aku di takdirkan miskin terus menerus? kapan aku bisa mengubah takdirku ini, Kapan ??kapan???,mungkin akan terjawab suatu saat nanti.”
     Beberapa detik aku melamun dengan sejumlah pertanyaan akhirnya bubur sudah masak dan siap santap ,lalu kusuguhkan untuk adik juga nenek ,kami makan bersama dengan membayangkan makan di Restoran dengan menu special. Hal itu hanya khayalan yang sering membuat kami tertawa kecil ,tak sengaja mataku tertuju pada jam dinding kuno satu” peninggalan Alm kakek yang menunjukkan pukul 06.15 pagi,aku pun bergegas keluar dari kamar nenek menuju kamarku untuk bersiap-siap kesekolah .Tepat pukul 06.30 segera pamit memulai awal perjuangan menimba ilmu di luar desa yang berjarak 2 Km dari rumah ,melewati hutan lebat dan juga menghamtam aliran sungai yang deras suasana seperti ini tidak memudarkan semangatku ,aku tak sendiri ada banyak pelajar lain yang senasib dengan ku .
       Langkah demi langkah tak terasa kami sampai di sekolah tepat pukul 07.15 tak lama kemudian bel masuk berbunyi .pelajaran sampai akhir kulalui dengan mulus tanpa hambatan sedikit pun .>>>tett….tett..tett…,bel bertanda pulang.Sesampai dirumah bergegas mengganti baju seragam sekolah dengan baju hadiah ulang tahun ku 3 tahun  lalu dari ayah yang sudah Nampak kusam dilengkapi celana panjang juga dibaluti dengan  jilbab sederhana ,bergegas ku pamit kemudian menanjak gas keluar dari rumah.
         Matahari begitu terik seakan membakar tubuh kurus kering ini. Namun  ,aku tetap semangat berjalan tanpa henti agar lebih awal sampai di kebun tempat dulu nenek bekerja tak lama kemudian aku sampai dan memulai mengumpulkan sayur-mayur sampai keranjang ini penuh ,dan siap di bawa ke pasar. Kembali aku berjalan menyusuri jalan raya menuju pasar Tradisional yang jaraknya 3 Km dari kebun ,sesampai dipasar sayuran tadi langsung di beli oleh pelanggan setia –ku dengan menerima upah Rp.10.000<rupiah>,,tak lupa aku mampir ke warung untuk membeli tempe goreng dan sayur asem kesukaan nenek
      Menjelang maghrib aku baru tiba di rumah ,shalat kemudian makan malam bersama,hari demi hari kulalui dengan rutinitas yang sama,sampai pada akhirnya aku menyelesaikan sekolah SMP dengan gelar sebagai Siswa Teladan seangkatan 2016,bersamaan dengan kabar gembira itu ,juga ada kabar kalau nenek yang selama ini mengasuh sejak lahir kini tlah di panggil oleh Sang Maha Kuasa tepat pada usianya yang ke 70 tahun. Dimana hal seperti ini menambah pahitnya kehidupanq.”Disaat aku mencoba Start berlari mengejar mimpi ,disaat ini juga aku merasa terjatuh dan tak kuat lagi tuk berlari,tetapi entah darimana asalnya tiba –tiba ada seseorang perempuan mengulurkan tangan nya padaku mencoba tuk menolong. Disaat itu pula aku mencoba bangkit dan mulai menerima kenyataan ."
        Seminggu setelah kematian nenekku ,aku dan adik mengambil keputusan untuk ikut bersama perempuan paruhbaya itu ke kota,”mencoba kehidupan yang baru”.Dikota aku dan adik mendapat kehidupan yang layak ,tinggal di rumah mewah,dan juga di sekolahkan di SMA favorite kota itu.Perlahan –lahan aku memulai lari mengejar mimpi degan terus belajar serta selalu berusaha memenangkan olimpiade Biologi tingkat provinsi.Adikku juga tak kalah semangatnya dari ku ia terus mengasah kemampuannya dibidang seni .Terjawab sudah pertanyaanku  dulu ,kini takdirku sudah berubah ,tak miskin terus menerus alhasil dari buah perjuangan hidup .Setelah tamat di SMA favorite aku di hadiahkan dari pemerintah berupa Beasiswa Lanjut Kuliah S1,S2 di Fakultas Kedokteran UGM  JOGJA ,hal ini membuat ku Bahagia ,mungkin ayah juga nenek di syurga turut bahagia melihatq saat ini .
     LARI>>>LARI>>>>DAN BERLARI MENGEJAR MIMPI beberapa detik lagi ku akan mencapai garis Finish dan meraih impian ><><><><><

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  " Jadilah perempuan yang inspiratif. Jadilah perempuan yang mewarisi kesabaran Siti Khadijah. Jadilah perempuan yan...